Saya Terkenang

DeTAK HATI EDISI 180
OLEH : SYAIFUDIN HM

Suasana di Aula Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah pada Sabtu, 18 Juni 2011 lalu, membuat hati dan perasaan ini terkenang ke masa 30 tahun lalu, mengapa demikian? Di tempat itu dilaksanakan pembukaan Pelatihan Penulisan Jurnalistik tingkat SMP yang diselenggarakan oleh Kegiatan Penjaminan Kepastian Layanan Pendidikan SMP Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah tahun anggaran 2011. Mengapa jadi terkenang? Karena Saya mulai menekuni dunia jurnalistik atau pers ketika masih duduk di bangku SMP kelas II tepatnya mulai Desember 1981 yang saat itu bergabung dengan Harian Banjarmasin Post Perwakilan Pangkalan Bun. Semula, saya memulai sebagai loper koran atau mengantarkan koran ke rumah-rumah dan kantor-kantor yang berlangganan Harian Banjarmasin Post. Bersamaan dengan status sebagai Loper, Kepala Perwakilan Harian Banjarmasin Post saat itu H. Abi Kusno Nachran (kini, almarhum) terus mendorong Saya untuk belajar menulis dan akhirnya menjadi wartawan Harian Banjarmasin Post. Karena itu, guru saya yang pertama dalam bidang jurnalistik adalah H. Abi Kusno Nachran. Sejak saat itu, Saya terus menekuni kegiatan jurnalistik hingga sampai sekarang, yang berarti sudah 30 tahun. Nah, ketika pihak Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng yang saat ini dipimpin oleh Guntur Talajan memulai pelatihan jurnalistik bagi SMP maka sungguh terobosan yang luar biasa, karena kegiatan ini untuk kali pertama dalam sejarah pendidikan di Kalimantan Tengah memperkenalkan ilmu-ilmu jurnalistik kepada para siswa SMP. Jujur saja, Saya merasa terharu, terkenang dan bangga dengan adanya program pendidikan jurnalistik bagi siswa SMP. Mengapa demikian? Karena jika kita melihat sejarah perkembangan jurnalistik dan pers di Kalimantan Tengah, pada era tahun 1980-an sangat sedikit sekali para peminat murni untuk menjadi wartawan. Saya katakan peminat murni adalah orang yang benar-benar ingin jadi wartawan, tidak ada kaitannya dengan pekerjaan lain. Tahun-tahun itu, ada sejumlah orang yang gagal jadi PNS, gagal jadi tentara, gagal jadi polisi, gagal jadi pegawai bank, akhirnya jadi wartawan. Karena memang, pada masa itu gaji wartawan kecil sekali, bahkan ada yang tidak digaji. Sehingga jika ada orang yang benar-benar murni ingin menjadi wartawan kala itu, hal tersebut sungguh luar biasa. Nah, ketika mulai memasuki era tahun 1990-an, wartawan atau pers sudah menjadi industri dengan gaji yang cukup memadai hingga era saat ini. Bersamaan dengan reformasi di Indonesia tahun 1998, perkembangan pers semakin cepat dan luar biasa, karena mendirikan perusahaan pers atau koran, majalah, tabloid dan lain-lain sebagainya itu, sangat mudah sekali hanya dengan mendirikan perusahaan berbadan hukum Indonesia. Akibatnya, pertumbuhan perusahaan pers seperti jamur di musim hujan. Celakanya, banyak orang-orang yang tidak mengerti jurnalistik mendirikan perusahaan koran, majalah, tabloid, sehingga banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran kode etik jurnalistik dan undang-undang tentang pers. Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng yang bekerjasama dengan PWI cabang Kalimantan Tengah tentang pelatihan jurnalistik bagi siswa SMP diikuti tujuh dari 14 kabupaten/kota se-Kalteng itu, diharapkan mampu menciptakan kader-kader wartawan atau jurnalis yang sudah memahami kode etik jurnalistik dan undang-undang tentang pers sehingga nantinya tidak ada lagi yang namanya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan para wartawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar