Kardinal Tarung : Membudayakan Hidup Tertib

DeTAK Edisi 139

Kardinal Tarung (foto Istimewa)
Usia Provinsi Kalimantan Tengah yang telah menginjak tahun ke-53 dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 patut disyukuri sekaligus dimaknai dengan hal-hal positif. Salah satu cara memaknai momentum hari jadi daerah tersebut secara positif adalah dengan ikut mengisi pembangunan mulai dari hal-hal yang terkecil, semisal membudayakan hidup tertib dalam bermasyarakat dan taat terhadap aturan serta hukum yang berlaku.

“Kita wajib bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berkat perjuangan para tokoh-tokoh masyarakat sejak dahulu hingga sekarang, Desa Pahandut yang dulunya kecil dan berada di tengah-tengah hutan serta alur Sungai Kahayan, sekarang bisa menjadi sebesar sekarang,” kata tokoh masyarakat, Kardinal Tarung, saat ditemui DeTAK di Palangka Raya.

Berkat kegigihan para pendiri daerah yang berlandaskan semangat Isen Mulang pula, akhirnya provinsi yang kini identik dengan sebutan “Bumi Tambun Bungai” ini dapat berdiri setara dengan 33 provinsi lain di Nusantara.

Pejabat Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Kalimantan Tengah itu menerangkan, jika ditarik dari sejarahnya, Kalimantan Tengah disahkan sebagai provinsi otonomi sendiri pada 23 Mei 1957 sesudah terbentuknya tiga “saudara tua”, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.

“Kota Palangka Raya yang asalnya merupakan Desa Pahandut kemudian dipilih sebagai ibukota provinsi. Desa ini adalah desa yang ke-17 jika dihitung dari muara Sungai Kahayan. Angka “17” memang merupakan angka yang sakral bagi para tokoh pendahulu kita seperti Pak Tjilik Riwut maupun Presiden Soekarno,” tutur pria yang lekat dengan adat istiadat budaya luhur Suku Dayak ini.

Kardinal melanjutkan, Kota Palangka Raya sebagai manivestasi Provinsi Kalimantan Tengah pada umumnya ini dibangun dengan cucuran keringat, bahkan darah dan airmata yang tidak sedikit.

“Tata letak dan rancangan kota ini didesain sendiri oleh Bung Karno saat pendiriannya. Sedangkan dalam pembangunan awalnya, para pendahulu kitalah yang banyak berperan. Siang dan malam mereka bekerja membuka kawasan yang sebagian besar adalah hutan lebat ini tanpa mengenal lelah,” terang Kardinal.

Dia menganalogikan, pola kerja yang ditunjukkan para founding father Kota Palangka Raya tersebut tak ubahnya etos kerja bangsa Jepang yang sekarang menikmati kesejahteraan berkat keuletan mereka dalam bekerja membangun negara.

“Pendirian Kalimantan Tengah dengan ibukotanya Palangka Raya tidak hanya dilalui melalui jalur diplomasi. Tapi juga keringat, darah dan airmata dari para pendahulu kita dalam membangun wilayah dari yang tidak ada menjadi ada. Sikap inilah yang perlu dicontoh oleh masyarakat kita sekarang ini, termasuk para pegawai pemerintahan,” kata Kardinal.

Dia juga menuturkan, di usia ke-53 ini, Kalimantan Tengah telah bertumbuh sebagai salah satu daerah penting dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apalagi, Kalimantan Tengah memiliki sumberdaya alam atau SDA yang melimpah seperti batubara, sirkon, emas dan lain sebagainya.

Kekayaan alam tersebut belum lagi ditambah dengan luas wilayah yang telah dikembangkan sebagai wilayah pertanian pertanian.

Di samping itu, sumber daya manusia (SDM) lokal juga mulai tumbuh dengan menggembirakan.

“Saat ini Kalimantan Tengah telah memiliki intelektual-intelektual lokal setingkat S-III. Ini merupakan aset dan pilar-pilar penting dalam kelanjutan pembangunan daerah kita,” sebut Kardinal.

Usia ke-53 tahun Provinsi Kalimantan Tengah ini harus dimaknai dengan perubahan sudut pandang baik dari masyarakat maupun pemerintah. “Harus ada grand strategi yang disepakati secara bersama oleh pemerintah daerah dan masyarakat dalam melanjutkan pembangunan ke depan,” katanya.

Menurut pria yang sempat menjabat Kadis Parsenibud Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, grand strategi tersebut harus berangkat dari fakta kemajuan pembangunan daerah maupun hal-hal yang masih harus ditingkatkan.

Kardinal tak menampik kenyataan bahwa proses pembangunan sendiri selalu menimbulkan impact negatif. Dia mencontohkan, pembangunan infrasturktur penunjang jalan darat seperti jembatan secara langsung dan tidak langsung telah menghilangkan sumber penghasilan masyarakat kecil yang menggantungkan nafkah dari jasa transportasi sungai.

“Mereka yang berprofesi sebagai ojek sungai dan juga pengelola jasa armada angkutan barang di sungai menjadi kehilangan sumber penghasilan. Ini merupakan salah satu imbas dari laju pembangunan,” sebut Kardinal.

Guna mengatasi hal tersebut, tambahnya, harus ada peran serta aktif oleh pihak pemerintah dalam penciptaan lapangan-lapangan kerja baru. “Misalnya, membantu dan mendorong terciptanya unit-unit usaha keramba ikan di pesisir sungai. Juga dengan membuka akses-akses pariwisata seperti susur sungai dengan melibatkan masyarakat sekitar,” katanya.

Good will pemerintah tersebut, sambung Kardinal, harus pula diikuti pemahaman dan kesedian masyarakat sendiri untuk ikut serta di dalamnya secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

Dalam keterkaitan memaknai momentum HUT ke-53 Provinsi Kalimantan Tengah ini, Kardinal berharap agar seluruh masyarakat luas mau merubah diri guna meningkatkan ketaatan terhadap hukum dan aturan-aturan.

“Contoh saja, dalam berlalu lintas. Secara kuantitas, jumlah kendaraan bermotor di wilayah Kalimantan Tengah khususnya di Kota Palangka Raya lebih rendah dari daerah lain seperti di Pulau Jawa. Tapi kenapa angka kecelakaan lalu lintas kita justru lebih tinggi dari daerah lain?,” ujar Kardinal setengah bertanya.

Ia mengatakan, salah satu penyebab seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas itu adalah disiplin pengguna jalan yang masih rendah dalam mentaati aturan-aturan berlalu lintas. “Nah, ketaatan terhadap aturan-aturan berlalu lintas semacam ini yang harus kita tingkatkan selaku pengguna jalan. Kalau ini bisa dilakukan tiap orang, angka kecelakaan lalu lintas itu bisa kita tekan,” ujar Kardinal.



PESAN BUNG KARNO

Selanjutnya, Kardinal mengingatkan kembali pesan Bung Karno semasa hidupnya. “Beliau bilang, Jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” sebut Kardinal.

Sejarah, terang Kardinal, merupakan hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan setiap orang maupun peradaban sebuah bangsa. Dengan berkaca pada sejarah, sebuah negara dapat melihat kekurangannya serta menata kehidupannya sekarang dan di masa depan agar dapat lebih baik lagi.

“Jangan sampai kita justru tidak tahu sejarah daerah sendiri. Generasi muda Kalimantan Tengah harus bangga dengan sejarah yang telah diukir oleh para pendahulu serta bangga dengan budaya yang mereka wariskan pada kita,” pungkasnya. (DeTAK – didindan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar